<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-31572036</id><updated>2011-07-07T23:04:56.100-07:00</updated><category term='Defenition'/><category term='Perbedaan itu Indah'/><category term='Tak adakah cara lain?'/><category term='Live Vs Work'/><title type='text'>Unknown</title><subtitle type='html'>The Other Side Of Me</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://esron-gaol.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31572036/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esron-gaol.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Esron Lumban Gaol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10785907572601919267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>6</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31572036.post-2690112304956749928</id><published>2010-05-31T21:07:00.001-07:00</published><updated>2010-10-28T21:46:33.402-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Defenition'/><title type='text'>Musibah</title><content type='html'>Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, musibah diartikan sebagai berikut;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;musibah;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;mu·si·bah &lt;b&gt;n&lt;/b&gt; 1 kejadian (peristiwa) menyedihkan yg menimpa: &lt;i&gt;dia mendapat -- yg beruntun, setelah ibunya meninggal, dia sendiri sakit sehingga harus dirawat di rumah sakit&lt;/i&gt;; 2 malapetaka; bencana: -- &lt;i&gt;banjir itu datang dng tiba-tiba&lt;/i&gt;&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Dalam Bahasa Inggris, musibah dapat disinonimkan dengan calamity atau disaster, yang masing-masing kata tersebut diartikan dalam Oxford English Dictionary sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;calamity;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;noun (pl. calamities) an event causing great and sudden damage or distress. &lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;&amp;nbsp;disaster&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;ul&gt;&lt;li&gt;noun 1 a sudden accident or a natural catastrophe that causes great damage or loss of life. 2 an event or fact leading to ruin or failure.&lt;/li&gt;&lt;/ul&gt;Musibah, akhir-akhir ini sering melawat negeri kami, sehingga sering ku bertanya apakah negeri ini terlalu ramah terhadap musibah ini sehingga dia (musibah) tidak bosan-bosannya datang ke negeri ini. Ada yang berkata bahwa musibah itu adalah peringatan dari Tuhan. Ada juga yang berpendapat bahwa semua itu adalah gejala alam. Tetapi ada suatu fenomena baru yang tidak terlihat dengan kasat mata, tapi sudah dapat dirasakan, bahwa rangkaian musibah lambat laun mulai mengeraskan hati nurani orang-orang.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31572036-2690112304956749928?l=esron-gaol.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esron-gaol.blogspot.com/feeds/2690112304956749928/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31572036&amp;postID=2690112304956749928&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31572036/posts/default/2690112304956749928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31572036/posts/default/2690112304956749928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esron-gaol.blogspot.com/2010/05/musibah.html' title='Musibah'/><author><name>Esron Lumban Gaol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10785907572601919267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31572036.post-2469846979499409213</id><published>2010-05-31T19:49:00.001-07:00</published><updated>2010-05-31T19:51:31.325-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Defenition'/><title type='text'>Batu Loncatan</title><content type='html'>Batu loncatan sering digunakan untuk gambaran suatu kondisi yang ditempuh untuk mencapai suatu kondisi lain dimana kondisi yang diharapkan lebih baik dari kondisi sebelumnya. Untuk dapat memahami analogi batu loncatan, dapat kita bayangkan dengan meloncat ke suatu batu yang lebih tinggi dimana untuk mencapai kesana tidak dapat kita lakukan dengan sekali loncatan. Dapat dikatakan sebagai bantuan, kita menggunakan batu yang lebih kecil, dimana dengan kemampuan yang dimiliki dapat sekali meloncat ke batu tersebut, dan dari batu tersebut selanjutnya digunakan sebagai pijakan untuk meloncat ke batu lainnya. Diibaratkan dengan untaian batu yang membentuk tingkatan-tingkatan, jumlah tingkatan ini tidaklah terbatas pada dua batu saja, melainkan bisa dalam beberapa jumlah, tergantung dari seberapa tinggi puncak yang akan dicapai, dan seberapa besar kemampuan yang dimiliki untuk meloncati setiap untaian batu tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31572036-2469846979499409213?l=esron-gaol.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esron-gaol.blogspot.com/feeds/2469846979499409213/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31572036&amp;postID=2469846979499409213&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31572036/posts/default/2469846979499409213'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31572036/posts/default/2469846979499409213'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esron-gaol.blogspot.com/2010/05/batu-loncatan.html' title='Batu Loncatan'/><author><name>Esron Lumban Gaol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10785907572601919267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31572036.post-8759416345082859469</id><published>2009-10-20T21:36:00.000-07:00</published><updated>2009-10-20T21:56:18.633-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tak adakah cara lain?'/><title type='text'>TAk adakah Cara LAin ? (Chapter One) PRihatin</title><content type='html'>Suatu hari seorang Ibu dengan membawa seorang anak datang ke Rumah Nanguda yang tinggal di KOMPERTA. Anaknya masih kecil, bisa dibilang masih balita. Datang dari daerah Sekayu, mencari suaminya yang kerja dan tinggal di Prabumulih, demikian kisah singkatnya bagaimana dia sampai bisa mengendong anak sambil menembus panasnya siang, dan entah kenapa belakang panas ini semakin menjadi-jadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dek, Ayuk minta tolong. Ayuk datang dari Sekayu mencari Suami Ayu dengan uang pas ongkos dari Sekayu ke Sini", demikian jelas si Ibu sambil menunjukkan muka sedih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan sedikit perasaan kasihan, saya terus mendengarkan cerita si Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Suami Ayuk kerja di Prabumulih. Dulu dia ikut temannya untuk kerja di Prabumulih. Tapi itu kejadiannya sudah lama. Dan Suami Ayuk sudah lama tidak memberi kabar. Dengan bermodal alamat yang pernah ditinggalkan Suami Ayuk, dan uang yang cukup untuk ongkos sekali jalan dari Sekayu ke sini, Ayuk datang kesini mencari Suami Ayuk", ceritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan Ayuk sudah menemukan Suami Ayuk?", aku bertanya sambil menunjukkan perasaan kasihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, itu dia. Tuan Rumah dari alamat yang Ayuk miliki mengatakan bahwa Suami Ayuk sudah lama pindah dari sana", dia melanjutkan penjelasannya. "Ayuk bingung, hendak kemana lagi Ayuk mencari Suami Ayuk. Sementara Ayuk sudah tidak memiliki uang lagi untuk ongkos balik ke Sekayu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayuk ga punya nomor telepon Suami Ayuk?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak Dek, Ayuk hanya memiliki alamat ini".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Teman suami Ayuk tadi?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tidak ada juga".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku terdiam sesaat sambil memikirkan kisah si IBu ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayuk bisa minta segelas air putih", pintanya tiba-tiba. "Dari tadi Ayuk belum minum, demikian juga dengan anak Ayuk".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sis, tolong ambilkan air segelas", aku memanggil adek yang ada di dalam rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siska datang dengan membawa segelas air dingin, dan menyerahkan air itu kepada si Ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah meneguk setengah gelas dan mengasih kepada anaknya, si Ibu melanjutkan ceritanya. "Ayuk minta tolong sama Adek. Ayuk ga tau lagi ngapain disini. Ayuk ga ketemu Suami Ayuk. Ayuk udah ga punya duit lagi untuk balik ke Sekayu. Ayuk hanya minta diberikan duit sekedar ongkos pulang ke Sekayu".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emang berapa ongkos balik ke Sekayu?" tanyaku sambil menghitung-hitung sisa duit yang ada di kantong ku. Aku ga bawa dompet, dan yang ada hanya sisa kembalian dari makan siang. Itupun hanya Rp. 15.000,-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tujuh Puluh Lima Ribu." jawab si Ayuk beberapa saat, setelah menghitung-hitung dalam hatinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wajar semahal itu, menurutku. Walaupun hanya pernah lewat sekali dari daerah Sekayu, dan emang Sekayu itu cukup jauh dari Prabumulih. Aku prihatin sekaligus sedih. Uang yang ada di kantongku tidak cukup untuk ongkosnya pulang ke Sekayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begini Yuk, aku lagi ga pegang duit sebanyak itu. Tapi aku hanya pegang segini. Aku minta maaf ga bisa nolong Ayuk lagi." kataku sambil menyerahkan uang yang kukantongi tadi. Emang tidak cukup kalau digunakan sebagai ongkos, tapi setidaknya dapat digunakan untuk beli makan, sambil berharap menemukan suaminya, meskipun harapan itu tidak ada.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terima Kasih dek, tapi Ayuk ga bisa pulang dengan uang segini". Kata si Ibu. "Ayuk bisa minta tolong sekali lagi?".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa lagi Yuk?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Disana itu ada mesjid. Ayuk minta tolong ditunjukkin rumah Pak Haji yang ada dekat sini", jelasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dem, I didn't know where is Haji's house arround here. Aku tanya Siska, dia juga ga tau. Tiba-tiba aku melihat teman aku, Faidol, yang kebetulan tengah berdiri di depan rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"MAs Faidol, tau dimana rumah haji dekat sini ga?" tanya aku. Awalnya dia kebingungan maksud pertanyaan aku, baru setelah kuceritakan secara singkat, dia baru dapat memahami duduk perkara permasalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita, setelah menunjukkan arah rumah Pak Haji yang dimaksud, si Ibu mengucapkan terima kasih, dan pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata banyak kisah manusia. Sungguh bervariasi. Dan entah kenapa kisah yang satu ini membuatku cukup merasa kasihan. Apakah masih ada kisah lain yang dapat membuatku merasa kasihan juga? Aku belum tau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-- bersambung--&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31572036-8759416345082859469?l=esron-gaol.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esron-gaol.blogspot.com/feeds/8759416345082859469/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31572036&amp;postID=8759416345082859469&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31572036/posts/default/8759416345082859469'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31572036/posts/default/8759416345082859469'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esron-gaol.blogspot.com/2009/10/tak-adakah-cara-lain-chapter-one.html' title='TAk adakah Cara LAin ? (Chapter One) PRihatin'/><author><name>Esron Lumban Gaol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10785907572601919267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31572036.post-4255404222301481963</id><published>2009-10-20T21:35:00.000-07:00</published><updated>2009-10-20T21:55:04.129-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tak adakah cara lain?'/><title type='text'>TAk ADakah CAra LAin ? (CHapter TWo) APatis AKibat PEnipuan</title><content type='html'>Tokoh;&lt;br /&gt;Saya sendiri.&lt;br /&gt;Nanguda : Inanguda Nora&lt;br /&gt;Kak Nancy : Barbara Nancy Lubis&lt;br /&gt;Ayuk (panggilan Kakak di Sumatera Selatan) : Si Ibu yang mengaku berasal dari Sekayu pada cerita Chapter One dan berasalah dari Lubuk Linggau pada Chapter Two.&lt;br /&gt;Dua orang anaknya (si Ibu).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Previously:&lt;br /&gt;Si Ibu datang ke rumah Nanguda mengaku berasal dari daerah Sekayu, mencari suaminya dimana dari alamat yang pernah ditinggalkan suaminya bahwa suaminya itu sudah tidak tinggal di rumah itu lagi (menurut pengakuan si Ibu). Minta tolong diberi uang untuk ongkos balik, saya menyerahkan uang saya yang ada di kantong saya pada saat itu sebesar Rp. 15.000,-. Karena nilainya kurang untuk digunakan sebagai ongkos, si Ibu menanyakan rumah Pak Haji yang ada di dekat rumah Nanguda. Setelah menunjukkan dengan bantuan Mas Faidol, si Ibu pergi juga menembus panasnya matahari di siang hari.&lt;br /&gt;--------------------0--------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa suling telah terdengar. Hari itu adalah hari Jum'at pada masa bulan Puasa. Karena selama bulan puasa banyak warung yang tidak buka, sehingga pada waktu makan siang sering kali aku pergi ke Rumah Nanguda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hubungan darah, aku sih tidak memiliki pertalian saudara langsung dennga Uda dan Nanguda ini. Tapi dari marga ayah dan ibu aku dua kali memanggil Inanguda kepada beliau. Selama tinggal di Prabumulih, aku cukup dekat dengan keluarga ini. Aku sendiri sudah menganggap mereka sebagai keluargaku. Demikian juga mereka, juga sudah mengganggap aku sebagai bagian dari keluarga mereka. Singkat cerita, aku makan siang di rumah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di teriknya matahari, dengan mengguakan jaket aku menaiki motor dari kantor ke rumah Nanguda. Cuaca di luar cukup cerah dan panas. Sering terpikir oleh ku, bagaimana orang-orang dapat tahan berpuasa di cuaca yang panas gini. Aku hanya berasumsi bahwa niat merekalah yang membuat puasa mereka berhasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di rumah Nanguda, aku disambut oleh Nanguda dengan keluar dari rumah. Aku parkir di teras Nanguda, karena kutahu, aku bakal lama menghabiskan istirahat siangku disini.&lt;br /&gt;"Halo", sapa Nanguda.&lt;br /&gt;"Ya, Uda udah datang?", kataku.&lt;br /&gt;"Belum, ah biasanya juga agak telah Udamu itu," begitu kata Nanguda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Uda memang sering pulang telah pada saat istirahat siang. Hal ini dikarenakan si Uda sering bekerja di lapangan. Dan dari lapangan ke rumah membutuhkan waktu perjalanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makan lah dulu." Nanguda langsung berkata begitu aku memasuki rumah.&lt;br /&gt;"Nantilah, tunggu Uda datang dulu," jawabku dengan nada datar. Memang perut sih udah lapar, nanti terkesan ga sopan klo aku mendahului.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama berselang, ditengah-tengah asiknya nonton Televisi, Kak Nancy datang. Dengan menggunakan Honda Beat birunya, si Ibu ini terkesan anggun kalau sedang mengendarai motornya itu. Badannya kecil, tapi sesuai dengan ukuran motornya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Halo Kakakku”, sapaku ke Kak Nancy.&lt;br /&gt;“Halo juga Adekku”, balas Kak Nancy.&lt;br /&gt;Begitulah salam pembuka kami, sekedar basa-basi kalau sudah ketemu. Habis itu dilanjutkan dengan obrolan biasa. Normalnya sih membicarakan masalah urusan kantor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah karena sudah lapar atau kenapa si Kak Nancy pergi ke meja makan yang ada di ruang makan.&lt;br /&gt;“Masak apa Bou?”, tanya Kak Nancy.&lt;br /&gt;“Udang...”, jawab Nanguda&lt;br /&gt;“Wah enak sekali”, balas Kak Nancy.&lt;br /&gt;“Nah, kalian makan aja lah dulu”, jawab Nanguda menanggapi Kak Nancy. “Ga usah kalian tunggu Amangborumu itu. Biasanya lama dia datang.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya ruhtuh juga pertahananku untuk menunggu si Uda datang sebelum makan. Asik-asik, akhirnya makan juga..., batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Singkat cerita kamipun makan. Hingga selesai makan, si Uda belum juga datang. Kami bercerita-cerita di ruang tengah menghabiskan jam istirahat kantor, sambil menunggu si Uda. TV juga nyala. Sambil cerita, sambil nonton.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ditengah-tengah obrolan kami, tiba-tiba datang seorang Ibu dengan menggendong seorang anak kecil dan seorangnya lagi berdiri di sampingnya. Karena pintu rumah memang terbuka, jadi si Ibu dan anaknya itu langsung kelihatan dari dalam rumah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ada tamu Bou”, kata Kak Nancy.&lt;br /&gt;“Biarkan aja situ, paling juga pengemis”, begitu kata Nanguda. Aku agak terkejut dengan jawaban Nanguda. Aku kenal si Ibu itu. Dia adalah dulu orang yang datang dari Sekayu mencari suaminya kesini, dan tidak ketemu. Dan ngapain lagi dia datang kesini? Nyari suaminya lagi? Pertanyaan itu langsung terlintas dalam pikiranku. Aku jadi agak malu mengisahkan ceritaku kemaren, begitu mengetahui jawaban si Nanguda. Aku langsung diam aja. Dan berusaha sembunyi agar tidak kelihatan sama si Ibu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kak Nancy juga menyadari kehadiran orang itu sebagai pengemis. Tapi Kak Nancylah utusan kami menghadapi tamu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dek, tolong kasihani kami. Kami belum makan dua hari ini,” kata si Ibu.&lt;br /&gt;“Emang knapa Yuk?”, kata Kak Nancy berusaha memahami si Ibu.&lt;br /&gt;“Ayuk datang dari Lubuk Linggau tiga hari yang lalu. Ayuk ke sini mencari suami Ayuk. Tapi tidak ketemu.” cerita si Ibu.&lt;br /&gt;“Emang dimana suami Ayuk tinggal?” tanya Kak Nancy berpura-pura menggali informasi.&lt;br /&gt;“Dulu suami Ayuk diajak sama temannya untuk kerja di sini.”, cerita si Ibu sambil menunjukkan muka murung. “Tapi suami Ayuk udah lama tidak pulang-pulang. Jadi Ayuk memutuskan datang kesini mencari Suami Ayuk. Dia pernah meninggalkan alamat temannya itu, di belakang komplek ini. Tapi yang punya rumah mengatakan, suami Ayuk tidak pernah tinggal disana. Dek, kasihani Ayuk Dek”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau Ayuk ga bisa menemukan suami Ayuk, apalagi saya”, kata Kak Nancy datar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kenapa Bu?”, tiba-tiba Nanguda berkata dari ruang tengah menghampiri Kak Nancy dan si Ibu tadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Bu, saya minta tolong diberi uang. Udah dua hari kami belum makan.”, kata si Ibu pengemis itu. “Uang saya sudah habis dalam perjalanan dari Linggau kesini. Berharap dapat bertemu dengan suami Saya, tapi tidak ketemu juga.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mohon maaf Bu, tapi kami tidak memiliki uang”, jawab Nanguda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau begitu, saya minta tolong diberikan air minum Bu.” jawab si Ibu tadi berupaya untuk bertahan supaya tidak langsung pergi dari rumah itu dan berharap siapa tahu hati si Nanguda berubah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kak Nancy pergi kedapur mengambil Aqua botol dan menyerahkan ke si Ibu Pengemis itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau rumah Pak Haji di sekitar sini, dimana ya Bu?” kata si Ibu Pengemis sambil menunjukkan muka putus asa.&lt;br /&gt;“Kami tidak tau Bu.”, jawab Nanguda.&lt;br /&gt;“Klo memang begitu, kami permisi dulu”, kata si Ibu Pengemis itu berputus asa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si Ibu itu pergi dengan langkah lemas. Tapi ada hal aneh dari kelakuan Ibu itu. Air minum yang dimintanya tadi ditinggalkan di kursi teras dan tidak disentuh sama sekali. Pengen aku bercerita mengenai kedatangannya dulu, tapi malu kalau katahuan bahwa kami dulu berhasil ditipunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tersenyum sekaligus merasa kesal sendiri. Bagaimana dulu aku bisa sampai tertipu. Dan juga heran, mengapa si Ibu ini berusaha menipu rumah yang sama. Dengan alasan yang sama. Cuman asalnya aja yang berbeda. Kecil sih kesalahannya, tapi cukup fatal...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia..oh..dunia... Sungguh beragam kau jadikan umat manusia ini. Penipu oh penipu, kenapalah kau berusaha menipu rumah yang sama...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;- T A M A T -&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mohon maaf bagi orang-orang yang kurang berkenan. Bisa dibilang kisah nyata, tapi banyak hal yang harus disensor.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31572036-4255404222301481963?l=esron-gaol.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esron-gaol.blogspot.com/feeds/4255404222301481963/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31572036&amp;postID=4255404222301481963&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31572036/posts/default/4255404222301481963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31572036/posts/default/4255404222301481963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esron-gaol.blogspot.com/2009/10/tak-adakah-cara-lain-chapter-two-apatis.html' title='TAk ADakah CAra LAin ? (CHapter TWo) APatis AKibat PEnipuan'/><author><name>Esron Lumban Gaol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10785907572601919267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31572036.post-137037814125545596</id><published>2007-10-09T19:37:00.000-07:00</published><updated>2009-10-20T21:53:46.542-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Live Vs Work'/><title type='text'>LIVE TO WORK OR WORK TO LIVE</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Who knows we just live once. So don't waste your time and your life. Enjoy your life.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;-- anonim&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah anda menikmati rutinitas? Kalau jawaban Anda "iya", cukup sampai disini Anda membaca, sebab artikel berikut ini bukan buat Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak, saya sangat membenci rutinitas. Bangun pagi-pagi dan berangkat ke kantor sebelum matahari terbit, dan pulang sesudah matahari terbenam. Tidak pernah melihat atau merasakan terik matahari. Terkadang malah sering kedinginan diterpa anging "&lt;span style="font-style: italic;"&gt;air coditioner&lt;/span&gt;". Ini semua dilakukan hanya untuk memikirkan apa yang sering disebut orang sebagai masa depan. Sering kita mendengar kalimat-kalimat "kita tuh harus mantepin rencana kita buat masa depan!", atau "kita tuh harus mikirin hari esok mulai dari sekarang!". Tapi kita sendiri tidak dapat menentukan masa depan kita. Kita hanya bisa memprediksikannya, mengorbankan segala yang namanya kebebasan demi sesuatu yang belum pasti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Klo ga kerja, gimana gw bisa menghidupi gw sendiri?". Kita seringkali menyamakan kalimat "Bekerja untuk hidup" dengan "Hidup untuk bekerja". Memang benar, untuk dapat hidup kita harus memperoleh sesuatu yang diperoleh dengan bekerja. Kita tidak boleh selamanya bergantung pada orang lain. Tetapi sebaliknya kita malah melupakan makna bekerja itu sendiri. Kita rela menjadi budak rutinitas. Membiarkan kebebasan kita ditunggangi oleh tanggung jawab pekerjaan. Melepaskan kekreatifan kita untuk meningkatkan produktivitas di tempat kerja, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama kita masih manusia, kita memang tidak bisa membuat keadaan kita sesuai dengan keinginan kita. Tetapi kita masih bisa mengkondisikan hidup kita sesuai dengan keadaan. Enjoy your life, lakukanlah sesuatu yang benar-benar kamu suka. Kalaupun kita harus bekerja, kita dapat mencari tempat kerja yang benar-benar kita suka, sesuai dengan kapasitas kita. Jangan pernah masuk suatu lingkungan yang membuat kita merasa terpacungjavascript:void(0). It your life man, not them.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31572036-137037814125545596?l=esron-gaol.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esron-gaol.blogspot.com/feeds/137037814125545596/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31572036&amp;postID=137037814125545596&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31572036/posts/default/137037814125545596'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31572036/posts/default/137037814125545596'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esron-gaol.blogspot.com/2007/10/live-to-work-or-work-to-live.html' title='LIVE TO WORK OR WORK TO LIVE'/><author><name>Esron Lumban Gaol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10785907572601919267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-31572036.post-6467981427727229207</id><published>2007-10-09T19:35:00.000-07:00</published><updated>2008-08-27T23:50:11.650-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Perbedaan itu Indah'/><title type='text'>PERBEDAAN ITU INDAH</title><content type='html'>Hukum alam mengatakan bahwa segala sesuatu yang di alam ini terdiri dari sepasang. Ada pro, ada kontra. Ada laki-laki, ada perempuan. Ada positif, ada negatif. Ada kata makro, ada kata mikro. Ada besar, ada kata kecil. Dan masih banyak lagi. Dan bahkan sampai "materi" juga memiliki "anti materi" (masih secara teori). Itulah perbedaan.&lt;br /&gt;Tetapi sebenarnya perbedaan itu bukan berarti saling bertentangan. Melainkan perbedaan itulah yang menciptakan suatu keseimbangan. "Ivory and Ebony, living together in the perfect harmony".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian juga halnya dengan unsur SARA (Suku, Agama dan Ras). Kita bisa berbeda bukan berarti untuk dibeda-bedakan. Bisa dibilang, rasa saling menghormati bisa timbul dikarenakan adanya perbedaan. Seperti kata "Vicky Sianipar" bahwa Tuhan merupakan merupakan komposer yang paling mengagumkan. Music yang indah berasal dari berbagai jenis alat music yang melakukan peran dan fungsi masing-masing. Dunia ini indah karena diisi oleh mahluk yang berbeda. Saling mengisi dan melengkapi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/31572036-6467981427727229207?l=esron-gaol.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://esron-gaol.blogspot.com/feeds/6467981427727229207/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=31572036&amp;postID=6467981427727229207&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31572036/posts/default/6467981427727229207'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/31572036/posts/default/6467981427727229207'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://esron-gaol.blogspot.com/2007/10/perbedaan-itu-indah.html' title='PERBEDAAN ITU INDAH'/><author><name>Esron Lumban Gaol</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10785907572601919267</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='16' height='16' src='http://img2.blogblog.com/img/b16-rounded.gif'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
